ads

Bangkai Pesawat Intai Belanda Dornier Do-24 Ditemukan di Gresik: Mencari Jejak Bentuk dan Sejarahnya

Rabu, 26 Juli 2023 02:38 WIB - Dilihat: 0

Baling-baling dan mesin pesawat yang ditemukan nelayan Gresik. (Foto: Pintoro M/flickr.com)
Baling-baling dan mesin pesawat yang ditemukan nelayan Gresik. (Foto: Pintoro M/flickr.com)

Jatimbebasbicara.co.id | Gresik – Nelayan di Gresik menemukan baling-baling dan mesin pesawat pada Rabu (26/7/2023) di perairan Umbal Hijau yang mengandung misteri sejarah perang dunia ke-2,

Serpihan yang ditemukan berasal dari pesawat Dornier Do-24 K-1 milik Angkatan Laut Belanda (MLD) yang jatuh di perairan dekat Madura pada tahun 1942 selama Perang Dunia II.
“Dari informasi yang tertera pada name plate yang ditemukan, terutama pada motor type yang tertulis ‘DO 24’, diduga bahwa mesin pesawat ini adalah milik Dornier Do-24 K-1 dengan nomor lambung X-29, yang jatuh di perairan utara Surabaya.” kata-kata yang diucapkan oleh Ady Setiawan, seorang anggota aktif dari Komunitas Roode Brug Surabaya, Selasa (25/07/2023).

Dengan menggunakan informasi dari tulisan yang timbul pada bagian mesin, Ady melakukan penelusuran melalui situs web Aviation Safety Network. Informasi yang tertera adalah Werk Nr: 13025, Motor Type: DO 24, Werkstoff: V 2 AF, Theodor Klatte, Bremen-Hutching.

Setelah mendapatkan informasi dari name plate, keterangan tersebut kemudian diidentifikasi melalui situs Aviaton Safety Network, dan akhirnya ditemukan bahwa kode DO 24 sesuai dengan pesawat Dornier DO 24 buatan Jerman yang termasuk dalam unit Aircraft Group 6 (GVT6) yang beroperasi di Hindia Belanda.

“Kapal terbang Dornier 24 K ini dibuat sesuai spesifikasi Belanda oleh produsen Jerman, Dornier. Tugas utama GVT-6 adalah memantau pergerakan dan posisi Jepang di sepanjang pantai barat Kalimantan,” lanjut Ady.

Robert A. Kingsley, seorang penulis berkebangsaan Belanda-Kanada, telah melakukan penelitian mendalam tentang Perang Pasifik, khususnya Kampanye Hindia Belanda pada 1941-1942, dan mencatat secara detail mengenai pesawat Dornier Do-24.

Dalam blognya yang berjudul ‘The Java Gold Blog‘, Kingsley menjelaskan bahwa pesawat Do-24 adalah lambang dari Dinas Udara Angkatan Laut Belanda di wilayah Timur jauh. Pada masanya, Dornier Do-24 menjadi pengganti pesawat Dornier Wal yang sebelumnya menjadi tulang punggung Angkatan Laut Belanda namun sudah ketinggalan zaman.

Pada permulaan Perang Pasifik, MLD memiliki 73 pesawat modern yang aktif beroperasi, termasuk pesawat operasional dan suku cadang. Jumlah armada MLD ini sangat mengesankan, bahkan hampir dua kali lipat dari total gabungan armada milik Inggris dan Amerika.

Dornier Do-24ATT Amphibian terbang dalam pameran udara Air Power di Zeltweg, Austria. (Foto: Manuel Rosado Gonzalez) Foto: Pesawat Dornier Do-24ATT (versi modern). (Istimewa/Dok. id.pinterest.com)

Terdapat total 73 kapal terbang, yaitu 37 Dornier Do-24K (“X”-boat) dan 36 PBY-5 (“Y”-boat), yang diatur dalam 18 formasi penerbangan dari tiga skuadron pesawat. Semua armada ini, sebenarnya, diparkir di pangkalan MLD yang terletak di Surabaya.

“Pangkalan pusat mereka terletak di Pangkalan Udara Angkatan Laut Morokrembangan, Surabaya, Jawa Timur. MLD juga memiliki pangkalan sekunder dan kapal pengangkut pesawat amfibi yang memungkinkan mereka untuk beroperasi di seluruh wilayah Hindia Belanda,” seperti yang dikutip dari tulisan Kingsley oleh JatimBebasBicara pada Selasa (26/7/2023).

“Kingsley menceritakan bahwa setelah perang pecah, Belanda melalui MLD mengirimkan tiga penerbangan Kapal X (Dornier Do-24K) ke pangkalan udara Seletar, Singapura pada awal Desember 1941.

Tidak hanya itu, MLD juga memberikan tiga pesawat PBY cadangan yang disebut Kapal Y kepada Inggris. Selanjutnya, MLD menempatkan dua Dornier lainnya di Kalimantan barat laut untuk melakukan pengawasan di perairan lepas pantai Malaysia.

“Untuk sebagian besar kampanye di Malaysia, Filipina, dan Indonesia, armada Sekutu mengandalkan kapal terbang MLD sebagai ‘mata di langit’ mereka, untuk melakukan pengintaian, patroli anti-kapal selam, dan pengawalan konvoi,” jelas Kingsley.

Dornier Do-24 bukan hanya pesawat pengintai biasa, karena armada Dornier Do-24 yang dibuat oleh perusahaan Jerman, Dornier, dilengkapi dengan menara senapan ganda di hidung dan ekor.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan meriam Oerlikon 20mm yang kuat di bagian tengah kapal, serta rak bom di bawah sayap yang mampu membawa hingga 3.000 pon bom.

Di depan pangkalan udara Aspretto, dekat Ajaccio, Corsica. (Foto: kitchener.lord) Foto: Dornier Do 24 T1 Aeronavale. (Istimewa/Dok. flickr.com)

Adapun pesawat Dornier Do-24 dengan nomor lambung X-29, yang puing-puingnya ditemukan oleh nelayan Gresik, mengalami kecelakaan di perairan dekat Madura pada tanggal 11 Februari 1942. Catatan yang dikemukakan oleh Kingsley menunjukkan bahwa pesawat tersebut mengalami kehancuran di dekat Morokrembangan.

Menurut catatan dari situs web Aviaton Safety Network, pesawat tersebut mengalami kecelakaan setelah gagal dalam misi penyelamatan tawanan di Banjarmasin. Pesawat tersebut sempat dikepung oleh pasukan Jepang namun berhasil menghindari serangan mereka.

Akibat pengepungan tersebut, pesawat X-29 mengalami kerusakan yang tidak dapat diketahui dan memutuskan untuk kembali ke pangkalan di Surabaya. Namun, di tengah perjalanan, pesawat itu jatuh di tengah kegelapan lautan di perairan dekat Madura.

 Author: A. Hisyam

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini