ads

Sah UU Kesehatan, Begini Tanggapan Dr Askan Ketua IDI Bojonegoro Dua Periode

Selasa, 25 Juli 2023 01:36 WIB - Dilihat: 10

Screenshot_2023-07-25-13-34-02-40_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

Jatimbebasbicara.co.id | Bojonegoro –  Disahkannya undang-undang kesehatan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (11/7/2023) menjadi pro dan kontra di kalangan tenaga kesehatan (nakes) di tingkat daerah maupun nasional,

Hal yg sama juga terjadi di kabupaten Bojonegoro.
dr. Askan, Sp.OG adalah mantan ketua IDI bojonegoro selama dua periode, dirinya mengaku sangat menyayangkan di sah kannya undang-undang tersebut, hal itu di ungkapkan saat di wawancarai awak media melalui sambungan aplikasi WhatsApp, Selasa (25/07/2023)
“Menurut pendapat saya pribadi itu terlalu cepat, mestinya itu kita duduk bersama dulu, dari perwakilan masyarakat, pemberi layanan kesehatan dan juga dari pemerintah,
kenapa harus tergesa-gesa, kalau undang-undang yg lama kurang bagus kenapa gak di revisi dulu” terang dr sepesial kandungan tersebut

Senada dengan pernyataan ketua IDI pusat Adib Khumaidi, dr Askan juga merasa kalau dalam hal ini IDI merasa di pojokan dan Ter dzolimi.
“Selama ini IDI itu membantu masyarakat & pemerintah, apakah pernah selama ini pemerintah itu memberikan sesuatu kepada IDI, kita yang malah membantu negara, tapi dengan pemberitaan-pemberitaan yang beredar kita merasa paling di salahkan, kalau dengan dicabutnya wewenang IDI saya pribadi malah enak gak perlu repot-repot nyeleksi dokter dll, tugas kita itu berat harus mengklarifikasi apakah yang mau izin buka praktek ini benar-benar dokter.
kita perlu menyeleksi dokter tersebut ber Etika atau tidak, arogan atau tidak, kalau ternyata dokter itu arogan yg rugi masyarakat juga kan, terlebih lagi kalau ada dokter asing masuk ke Indonesia kalau gak di verivikasi misalnya, kita kan ya kasihan kepada masyarakat. Jadi kalau sekarang mau di minta wewenang kita ya Monggo saja” tegasnya.

Ketika di singgung tentang pendapatan dirinya saat menjadi ketua IDI bojonegoro selama dua periode dr Askan menjelaskan kalau dirinya tidak di untungkan secara materil. “Saya sebagai ketua IDI bojonegoro selama dua periode kalau di hitung bukan mendapatkan sesuatu tapi malah tekor, bukan hanya tenaga & waktu tapi saya juga tekor keuangan untuk operasional organisasi itu, saya itu tidak pernah mendapatkan honor ataupun bayaran, saya malah merogoh saku saya kalau ada kegiatan pengabdian masyarakat dll”

Saat di konfirmasi terkait dokter yg harus membayar ketika memperpanjang izin prakteknya, dr Askan menjelaskan kalau uang tersebut di gunakan untuk kas organisasi dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Uang itu kita gunakan untuk mereka sendiri, untuk seminar & pengabdian masyarakat, kalau ada lebih baru kita masukkan ke kas kita, jadi bukan untuk pribadi, kas itupun kita gunakan untuk operasional organisasi kita, saat ini kita mempekerjakan dua orang di sekretariat IDI bojonegoro, itu tiap bulan kita gaji sesuai UMR kalau dua orang berarti kan 5 juta, itu uang darimana” terangya.

Dr Askan juga menjelaskan kalau gedung sekretariat IDI bojonegoro saat ini di bangun dengan dana patungan selama sepuluh tahun.
“Dulu kita itu nyewa ruko untuk kantor IDI bojonegoro, itu kan ya isin-isini (memalukan/red) akhirnya kita patungan selama sepuluh tahun untuk membuat gedung itu, jadi kalau kita dikatakan punya uang banyak itu sangat salah, untuk membangun gedung itu tidak sepeserpun kita menerima dari pemerintah” terangnya. (wio/red)

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini